>
you're reading...
Biconers, Bird News, Kontributor

Migrasi Burung dan Perubahan Iklim

Oleh: Nadia Istiqomah, S.Si.,M.IL

Sea Level Rise (SLR)?

Naiknya permukaan air laut atau Sea Level Rise (SLR) merupakan sebuah fenomena yang menjadi salah satu indikasi perubahan iklim (climate change). National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mengungkapkan bahwa dari tahun ke tahun, tren naiknya permukaan air laut global cenderung meningkat sebesar 3mm/th secara global.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) dalam project nya bahwa pada abad ke 21 kenaikan muka air laut mencapai 18-59 cm (setara dengan 7.1 – 23.2 in). sebagaimana dipublikasikan dalam laman web IPCC

 Sumber: http://www.ipcc.ch

Indonesia yang memiliki panjang garis pantai mencapai 81,000km (Pemerintah Republik Indonesia, 2007), menjadi salah satu Negara yang rentan terhadap kenaikan muka air laut. Kenaikan muka air laut di Indonesia mencapai 1-8mm per tahunnya (ADB, 2009). Panjang garis pantai Indonesia memiliki potensi dan pemanfaatan kawasan pesisir Indonesia yang sangat tinggi. Penggunaan lahan untuk sektor pertanian dan perikanan di kawasan pesisir memiliki peran penting yang berkontribusi menyediakan lapangan pekerjaan bagi hampir 50% penduduk Indonesia. Sektor ini turut menyumbang sebanyak 13,7% GDP Nasional (ADB, 2009). Dari segi kependudukan, sebanyak 98,4% penduduk Indonesia hidup 100km dari kawasan pesisir.

Selain itu, sampai saat ini, Indonesia masih menjadi surga migrasi bagi burung air. selain dari kenaikan muka air laut, burung-burung pantai seringkali terancam karena adanya perubahan habitat di kawasan pesisir dan juga konversi mangrove menjadi area tambak dan budidaya perikanan.

Singkatnya, kawasan pesisir Indonesia menjadi tumpuan dan sandaran hidup tidak hanya bagi kegiatan ekonomi masyarakat pesisir, tetapi juga makhluk hidup yang bergantung pada keanekaan hayati ekosistem pesisir. Naiknya permukaan air laut dapat menyebabkan potensi dan pemanfaatan di kawasan pesisir menjadi berkurang, dan hal ini juga sejalan dengan terancamnya populasi burung pantai karena hilangnya wilayah makanan mereka.

 

Pengaruhnya terhadap Migrasi Burung?

Meningkatnya muka air laut menjadi ancaman tersendiri khususnya bagi burung-burung air migran. Ternyata, dampak kenaikan muka air laut terhadap burung migran cenderung lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Hal ini diungkapkan oleh Takuya Iwamura (2013), peneliti dari Stanford University. Menurutnya, kawasan lahan basah surutan  (tidal wetland area) merupakan kawasan yang penting bagi burung-burung air migran. Kawasan ini menjadi tempat singgah burung air migran untuk “refuel” atau dapat dikatakan sebagai feeding ground sebelum akhirnya burung migran ini melanjutkan perjalanan panjang migrasinya. Menjadi lebih penting, karena kawasan lahan basah surutan ini merupakan area “bottleneck”  – area dimana sebagian besar burung migran, dalam jumlah yang besar, akan melewatinya ketika musim migrasi tiba- bagi burung air migran. Beberapa jenis burung air migran ini diantaranya adalah bar-tailed godwit (Limosa lapponica), curlew sandpiper (Calidris ferruginea),eastern curlew(Numenius madagascariensis),great knot(Calidris tenuirostris),grey-tailed tattler(Tringa brevipes),lesser sand plover(Charadrius mongolus),terek sandpiper (Xenus cinereus).

Iwamura menegaskan pula bahwa dengan naiknya muka air laut dapat mengancam hilangnya habitat bagi burung-burung air migran yang memanfaatkan area tersebut. Tidak menutup kemungkinan hal ini juga mengancam populasi jenis burung migran.

Migrasi burung ini dapat menjadi salah satu indikator dari perubahan iklim yang terjadi. Negara-negara kawasan Eropa dan Amerika Utara telah mencatat bahwa kedatangan burung migran pada breeding area dan permulaan waktu breeding menjadi lebih cepat sedangkan waktu migrasi menuju wintering area cenderung melambat.

Fenomena Sea Level Rise menjadi fenomena yang kompleks, namun tidak ada salahnya bagi kita untuk lebih sadar dan tahu dampak dan faktor pemicu fenomena tersebut.

So, be aware!

Dalam rangka World Environment Day – Raise your voice, not the sea level.

 

References :

Government of Republic of Indonesia (2007) Indonesia country report: climate variability and climate changes, and their implication. Technical report, Ministry of Environment, Jakarta

Takuya Iwamura, Hugh P. Possingham, Iadine Chades, Clive Minton, Nicholas J. Murray, Danny I. Rogers, Eric A. Treml, Richard A. Fuller. 2013. Migratory Connectivity magnifies the consequences of habitat loss from sea-level rise for shorebird populations. Proceeding of Royal Society Biological Sciences 2013 280, 20130325.

Asian Development Bank. 2009. Key Indicators for Asia and The Pacific 2009

Advertisements

About Bicons

Berdiri pada 24 September 1999, diinisiasi oleh beberapa orang yang peduli dengan pelestarian burung dan habitatnya. BICONS didirikan atas dasar pemikiran semakin terdesaknya keberadaan satwa liar di kawasan perkotaan. Burung dijadikan sebagai titik masuk BICONS untuk berbagai upaya pelestarian lingkungan hidup.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

BICONS’ Archives

%d bloggers like this: