>
you're reading...
Uncategorized

Bas Van Balen, “Suhu” Ornithologi Indonesia

Birdwatching itu science yang paling sportif dan olahraga yang paling ilmiah” begitu ujar seorang Ornitholog (Ahli burung) berkebangsaan Belanda yang tinggal di Indonesia, Bas Van Balen.

Bagi para pengamat burung (birdwatcher) dan peneliti di dunia Ornithologi pasti sudah tidak asing lagi mendengar nama Bas Van Balen. Ya, beliau merupakan peneliti berkebangsaan Belanda yang mendalami dunia perburungan di Indonesia. Berbagai kegiatan survey dan penelitian mengenai burung telah membawanya menjelajahi 24 dari 27 provinsi yang ada di Indonesia (pada waktu itu).

Sebastianus Van Balen yang akrab dipanggil Bas Van Balen, lahir di di Arnhem, Belanda pada tanggal 17 November 1954. Bas mengenyam pendidikan menengah atas di Katholiek Gelders Lyceum, Arnhem dan meneruskan pendidikan tinggi di Jurusan Biologi, Utrecht University. Bas terlibat penelitian di Indonesia sejak tahun 1979. Awalnya, Bas melakukan penelitian di Indonesia, tepatnya di Bogor, Jawa Barat untuk menyelesaikan program magister (MSc) di bidang Ekologi Lansekap dan Botani. Bas menjadikan burung sebagai indikator dalam studi lanjutannya. Penelitian awalnya ini disupervisori langsung oleh seorang profesor dari Universitas Indonesia, Prof. S. Somadikarta.

Ketika meraih gelar magisternya, Bas mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi seorang wanita asal Bogor, Lina Marlina (Like) dan sampai saat ini dikaruniai dua orang anak, Leonarda Putu Suci (Leonie) dan Gerrit Darmin (Gerrit). Setelah program magisternya selesai, ia kembali ke Belanda dan kembali lagi ke Indonesia tiga tahun kemudian untuk menyelesaikan tesis PhD nya. Gelar PhD ia dapatkan di Wageningen University, Belanda.

Selama melakukan penelitian, Bas fokus mendalami spesies burung di Sunda Besar. Wilayah Sunda Besar mencakup Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Bali dan Pulau Kalimantan (termasuk Sabah, Sarawak, dan Brunei Darussalam), serta pulau-pulau kecil di lepas pantai (termasuk pulau lepas pantai di utara dan timur Pulau Kalimantan). Kepulauan Sunda Besar terbentang pada salah satu wilayah zoogeografi yang paling menarik di dunia, yaitu Kepulauan Indonesia-Malaysia. Sambil melakukan penelitian dan survey burung di kawasan Sunda Besar, Bas juga meneliti beberapa jenis burung yang terancam punah, seperti Elang Jawa, Jalak Bali, dan Merak Hijau.

Bas tinggal di Indonesia selama kurang lebih 14 tahun. Kegiatannya tak lepas dari dunia perburungan. Bas sempat menjadi dosen tamu di Institut Pertanian Bogor selama tiga tahun, yaitu dari tahun 1985-1987 dan terlibat di beberapa lembaga, seperti Yayasan Indonesia Hijau Universitas Pakuan Bogor, Sekolah Manajemen Lingkungan, dan Universitas Indonesia. Sejak 1989 – 1997 Bas terlibat aktif dalam proyek penelitian spesies burung Jalak Bali sebagai pimpinan proyek dan Spesies Officer di lembaga profesi BirdLife International-Indonesia Programme (IP). Keahliannya di dunia ornithologi dan ekologi menjadikannya sebagai seorang konsultan bagi beberapa NGO (Non-Governmental Organization), seperti WWF (Worldwide Fund) for Nature – IP, Wetlands International-IP, CIFOR, PT. Hatfindo, dan Wildlife Conservation Society-IP, serta menjadi pendamping untuk mengetahui jenis-jenis burung (bird guide) di berbagai perusahaan ekoturisme.

Selama kegiatan penelitian dan survey mengenai burung, Bas dikenal banyak membantu para peneliti muda yang memiliki ketertarikan terhadap dunia Ornithologi. Pribadinya yang ramah dan mudah bergaul membuat para peneliti muda yang terlibat dalam kegiatan penelitian, tak segan untuk berdiskusi banyak dengannya. Salah satu masterpiece seorang Bas Van Balen adalah sebuah buku panduan lapangan  (Field guide) burung-burung Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Bali versi bahasa Indonesia yang ia susun bersama dua rekannya, John MacKinnon dan Karen Phillips. Buku panduan ini menjadi referensi standar bagi para peneliti, profesional, kelompok dan individu pengamat burung. Buku ini menjadi buku yang paling populer untuk informasi avifauna Sunda Besar dalam Bahasa Indonesia. Pembuatan field guide ini merupakan salah satu bentuk dedikasinya di dunia ornithologi.

Selain melakukan survey dan penelitian mengenai ekologi burung-burung di Indonesia, pria yang sangat fasih berbahasa Indonesia ini juga mengumpulkan rekaman suara burung yang telah dilakukannya sejak tahun 1980. Ia bercita-cita memiliki perpustakaan suara burung terlengkap untuk menunjang para peneliti muda dan para pengamat burung pemula untuk belajar mengidentifikasi jenis burung.

Saat ini, Bas Van Balen menjadi salah satu editor Jurnal Internasional yang diterbitkan oleh Indonesia, KUKILA. Kontriibusinya terhadap dunia Ornithologi di Indonesia sudah tidak diragukan lagi, dialah peneliti luar negri yang sangat memahami dan mendalami avifauna di Indonesia.

.nnad.

(Dari berbagai sumber)

*Tulisan ini pernah dimuat di Harian Pikiran Rakyat Edisi 24 November 2011 dalam kolom Cakrawala*

Advertisements

About Bicons

Berdiri pada 24 September 1999, diinisiasi oleh beberapa orang yang peduli dengan pelestarian burung dan habitatnya. BICONS didirikan atas dasar pemikiran semakin terdesaknya keberadaan satwa liar di kawasan perkotaan. Burung dijadikan sebagai titik masuk BICONS untuk berbagai upaya pelestarian lingkungan hidup.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

BICONS’ Archives

%d bloggers like this: