>
you're reading...
Biconers

KUTILANG (Pycnonotus aurigaster) Simbol Fauna Kota Bandung

Perlu anda ketahui bahwa burung Kutilang (Pycnonotus aurigaster) yang termasuk dalam Suku Cucak-cucakan/Bulbuls Family (Pycnonotidae) ini dijadikan sebagai simbol fauna Kota Bandung yang disandingkan dengan Patrakomala (Caessalpinia pulcherima) sebagai simbol floranya.

Karakteristik : memiliki leher dan sayap pendek, ekor agak panjang dan paruh ramping. Mempunyai bulu yang halus dan lembut, beberapa jenis berjambul tegak. Bulu burung jantan dan betina mirip, kebanyakan mempunyai warna bulu yang buram dengan pola warna kuning, jingga, hitam dan putih.

Burung cucak-cucakan terutama merupakan burung pemakan buah-buahan, walaupun mereka juga memakan serangga. Merupakan burung yang penuh percaya diri, dengan kicauan yang ramai, dan sangat musikal pada beberapa jenis. Cenderung hidup di pohon dan membuat sarang berbentuk mangkuk yang tidak rapi. Tidak satu pun merupakan burung migran.

Di Sunda Besar terdapat 29 burung cucak, merbah, dan brinji.

Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster)

Memiliki ukuran ± 20 cm, dengan kepala bertopi hitam. Pada bagian tunggir keputih-putihan dan bagian tungging berwarna jingga kuning. Bagian dagu dan kepala atas hitam. Kerah, tunggir, dada, dan perut putih. Sayap berwarna hitam dengan ekor berwarna coklat. Bagian iris mata berwarna merah, sedangkan paruh dan kaki berwarna hitam. Suaranya merdu dan nyaring “cuk-cuk”, dan “cang-kur” yang diulang cepat.

Penyebaran burung ini secara global mulai dari Cina selatan, Asia tenggara (kecuali Semenanjung Malaysia) dan Jawa. Diintroduksi ke Sumatera dan Sulawesi selatan, juga baru-baru ini mencapai Kalimantan selatan. Sedangkan penyebaran lokalnya sampai Sumatera, Jawa dan Bali. Di Jawa dan Bali, merupakan salah satu jenis yang tersebar paling luas dan umum, sampai ketinggian sekitar 1.600 mdpl.

Burung ini memiliki kebiasaan hidup dalam kelompok yang aktif dan ribut, sering berbaur dengan jenis cucak lain. Lebih menyukai pepohonan terbuka atau habitat bersemak, di pinggir hutan, tumbuhan sekunder, taman, dan pekarangan, atau bahkan kota besar seperti halnya di Kota Bandung.

Di Kota Bandung burung ini hidup di taman-taman kota dan pekarangan yang ditumbuhi oleh pepohonan berbiji yang menjadi sumber makanannya.

Status perlindungan jenis burung ini tidak termasuk ke dalam burung yang dilindungi. Akan tetapi burung ini dijadikan sebagai simbol fauna Kota Bandung yang disandingkan dengan Patrakomala (Caessalpinia pulcherima) sebagai simbol floranya

Referensi

  1. Holmes, D. 1999. Burung-burung di Jawa dan Bali. Puslitbang Biologi – LIPI. Bogor
  2. MacKinnon, J., K. Phillips, dan B.V. Balen. 1998. Panduan Lapangan Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan. Jakarta: Puslitbang Biologi-LIPI
  3. Ramdhani, D. 2006. Studi Hubungan Keanekaragaman Burung dengan Lansekap Taman Kota Bandung. Jurusan Biologi Universitas Padjadjaran. Jatinangor.
Advertisements

About Bicons

Berdiri pada 24 September 1999, diinisiasi oleh beberapa orang yang peduli dengan pelestarian burung dan habitatnya. BICONS didirikan atas dasar pemikiran semakin terdesaknya keberadaan satwa liar di kawasan perkotaan. Burung dijadikan sebagai titik masuk BICONS untuk berbagai upaya pelestarian lingkungan hidup.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

BICONS’ Archives

%d bloggers like this: