>
you're reading...
Biconers, SBW

An Evening with BICONS Birdwatching

Sebuah cuplikan pengalaman selain Sunday Bird Watching

Teman – teman BICONS tidak seperti biasanya mengadakan birdwatching di sore hari. Pada hari itu, Jumat – 01 Februari 2008 , sebenarnya dijadwalkan birdwatching di pagi hari sekitar Pukul 06. 30 WIB dengan rute Taman Ganesha – ITB dan akhirnya BakSil (Babakan Siliwangi). Namun karena satu dan lain selain karena hujan deras mengguyur Bandung sedari pagi hingga menjelang sore tanpa menunjukkan tanda berkesudahan, akhirnya kita melakukan birdwatching di sore hari. Walaupun demikian sore di hari Jumat itu cukup cerah dengan udara cukup segar dan aroma tanah sehabis diguyur air hujan. Pada pukul 16.00 WIB tepatnya kita memulai perjalanan birdwatching dengan rute seperti yang telah direncanakan sebelumnya. Para pesertanya sendiri terdiri atas 7 orang bernama Ade Rahmat, Tedi Setiadi, Nadia Rahma, Galih Nugraha, Jaya Permana, Wina Dewi, dan Felicia Lasmana yang (mungkin) rata – rata termasuk golongan Birder1 dan Dude2 kalau memang tidak mau disebut Twitcher3 yang supermaniak burung itu.

Taman Ganesha

Berawal dari titik pengamatan SBW, pastinya teman – teman pengamat burung yang sudah terbiasa dengan pengamatan di Taman Ganesha tidak akan heran lagi akan menemukan burung – burung berjenis Acridotheres javanicus (Kerak kerbau), Pycnonotus goiavier (Merbah cerukcuk), dan Streptopelia chinensis (Tekukur biasa). Tentu saja jenis burung kosmopolit seperti Passer montanus (Burung gereja) dan Collocalia esculenta linchi (Walet sapi) wajib sudah dimasukkan ke dalam daftar burung anda. Psittacula alexandri (Betet biasa) juga tampak satu dua ekor walau sebagian besar telah tersingkir akibat adanya Nycticorax nycticorax (Kowak malam kelabu) pertengahan bulan Oktober 2005 yang lalu.

Kompleks Kampus ITB – Babakan Siliwangi

Tiba di kawasan Student Center ITB, tanpa ragu kami segera melayangkan pandangan masing – masing melalui binokuler Canon®, Pentax®, dan Nikon®. Walau banyak diperhatikan oleh para mahasiswa ITB yang tidak terbiasa melihat para birdwatcher. Malah sempat juga kami dipergok dan ditanya seorang ibu yang bingung melihat tingkah laku kami. Saking terlalu asyik apapun bentuknya, ujung ranting, dahan pohon, dedaunan yang bergerak ditiup angin, puncak gedung pun kami pelototi. Suatu ketika ada sekitar 5 ekor burung yang sedang hinggap di puncak pohon dekat Labtek ITB. Akhirnya diketahui bahwa satu ekor diantaranya adalah si burung pelatuk, Dendrocopus macei (Caladi ulam). Di kala kita bingung dalam mengidentifikasi suatu jenis burung, Ade “Ader” Rahmat yang menjadi guide bersama dengan Tedi pun dengan santai menjelaskan bahwa hendaknya kita selalu ingat dasar – dasar pengamatan burung dan jika perlu membuat sketsa. Pelan – pelan tapi pasti kita pun berhasil mengidentifikasi burung tersebut sebagai Muscicapa dauurica (Sikatan bubik) dari ukuran, posisi bertengger sampai gaya terbang bolak baliknya yang khas seekor flycatcher. Burung lainnya yang cukup bingung ketika pertama kali diidentifikasi adalah Dicaeum trochileum (Cabe Jawa) yang ternyata karena masih juvenil, ditandai dengan paruhnya yang berwarna pucat.

Tanpa kita disadari waktu telah menunjukkan Pukul 18.00 WIB sudah tiba saatnya kita pulang. Walaupun demikian sepanjang perjalanan pulang kami sempat melihat Cacomantis merulinus(Wiwik kelabu) dan sepasang Megalaima haemacephala (Takur Ungkut – ungkut) di ranting pohon dekat Aula Barat ITB yang sedang bermanja-manjaan. Nycticorax nycticorax pun lalu kembali menyambut kami dengan suara paraunya di dekat Gerbang Utama ITB. Walaupun demikian kami belum melihat tanda – tanda kepergian koloni burung air ini ke daerah Bandung selatan untuk mencari pakan. Fenomena koloni Nycticorax nycticorax ini memang begitu mengagumkan. Sampai – sampai sebuah surat kabar lokal di kota Bandung pernah menulis artikel khusus tentang jenis burung ini. Walaupun sebenarnya yang diceritakan dalam artikel tersebut lebih menonjolkan keberadaannya yang bermakna negatif di sekitar Taman Ganesha.

Secara keseluruhan hari itu sungguh sore hari yang menyenangkan….Kendala hari yang sudah cukup gelap nampak tidak kami indahkan sehingga kami tetap keukeuh melanjutkan birdwatching dan main gelap – gelapan. Apalagi menurut Tedi, di dekat BakSil dulu pernah ditemukan Scops owl, Otus lempiji (Celepuk reban) selain jenis cabak – cabakan (Nightjars) yang memang jenis nokturnal. Sayangnya kita nggak bawa senter besar untuk pengamatan burung nokturnal. Jadi mungkin lain kali aja ya….

1Birder : Seorang pengamat burung diantara seorang twitcher dan seorang dude. Dia mungkin sangat bersemangat ketika birding tetapi tidak berobsesi. Pengetahuan identifikasi dan pengenalan lokasi untuk pengamatan biasanya cukup bagus. Para Birder juga suka mencari burung langka yang dikejar para twitcher serta senang membantu seorang dude.

2Dude : seorang birder yang tidak terlalu serius dengan pengamatan, lebih menyukai pemandangan yang indah dan cuaca yang baik. Biasanya cukup puas dengan burung – burung yang sering dijumpai dan sangat membosankan bagi seorang twitcher. Seorang Dude sering tidak terlalu pintar mengidentifikasi jenis-jenis burung, akan tetapi sangat menikmati burung-burung yang mereka lihat dan tidak mengumpulkan daftar-daftar jenis burung mereka.

3Twitcher : Pengamat burung yang terobsesi untuk membuat daftar jenis burung dan berusaha mengamati burung – burung langka yang sudah ditemukan oleh birdwatcher lain, Seorang twitcher biasanya terobsesi menjelajahi semua negara hanya untuk melihat suatu jenis burung yang mungkin bagi orang awam biasa saja. Ada kalanya terobsesi hanya pada satu golongan burung saja seperti Pitta atau Koel di seluruh dunia. Mahluk ini sangat mungkin terlihat lusuh dan lecek dengan sahabat sejatinya binokuler dan kamera yang mungkin sudah usang karena terlalu sering dipakai.

Advertisements

About Bicons

Berdiri pada 24 September 1999, diinisiasi oleh beberapa orang yang peduli dengan pelestarian burung dan habitatnya. BICONS didirikan atas dasar pemikiran semakin terdesaknya keberadaan satwa liar di kawasan perkotaan. Burung dijadikan sebagai titik masuk BICONS untuk berbagai upaya pelestarian lingkungan hidup.

Discussion

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Puspa dan Satwa» Arsip Blog » DETERMINATION FAUNA IDENTITY OF WEST JAVA PROVINCE - 17 October 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

BICONS’ Archives

%d bloggers like this: