Biodiversity Journey to Borneo part 3

29 October 2008

Dari Deramakot, perjalanan pun dilanjutkan ke Gunung Kinabalu (4.095,2 mdpl). Seluruh peserta dianjurkan untuk melakukan pendakian dari ketinggian 1.564 mdpl ke 4.095,2 mdpl dengan melakukan pemberhentian di ketinggian 3.290 mdpl. Pendakian pertama (1.564 – 3.290) dimulai pukul 08.30 waktu setempat. Saya berhasil mencapai penginapan di 3.290 mdpl pukul 16.30 dengan banyak beristirahat di sepanjang perjalanan. Saya dan teman-teman mendapat waktu istirahat satu malam di sana.

Pemandangan Gunung Kinabalu dari ketinggian 1500 mdpl photo by Ayu Nurinsiyah (2008)

Pemandangan Gunung Kinabalu dari ketinggian 1500 mdpl photo by Ayu Nurinsiyah (2008)Peta perjalanan menuju Puncak Kinabalu, photo by Nayana Wijetilaka (2008)

Keesokan harinya, Cam mengajak kami untuk berjalan-jalan di sekitar penginapan dan mempelajari keanekaragaman hayati yang ada di ketinggian tersebut. Makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kalimat tersebut benar adanya karena dari pengamatan yang saya lakukan, hanya tumbuhan dan hewan tertentu yang dapat hidup di daerah ini. Hampir tidak ada tanah, yang ada hanya bebatuan. Pohon yang dapat tumbuh pun tingginya hanya mencapai 2 meter, sisanya semak dan rumput. Hampir semua hewan dan tumbuhan yang terdapat di daerah ini endemic ketinggian 3000 mdpl.

Pemandangan dari ketinggian 3.290 mdpl (photos by Ayu Nurinsiyah, 2008)

Birds in Kinabalu (photos by Nayana Wijetilaka, 2008)

Eksplorasi di ketinggian 3.290 hanya berlangsung hingga pukul 5 sore. Kami harus beristirahat karena pukul 02.30 pagi kami harus mendaki Low’s Peak, puncak tertinggi Gunung Kinabalu (4.095,2 mdpl) atau puncak gunung tertinggi di Asia Tenggara setelah puncak Kartens di Pegunungan Jayawijaya, Indonesia. Perjalanan pun dimulai pukul 02.30 untuk saya dan beberapa teman-teman, rombongan kedua berangkat pukul 03.00. Dengan suhu di bawah 10°C dan tekanan udara yang tinggi membuat saya agak kesulitan untuk bernafas. Hanya berbekal senter, jaket dan penutup kepala saya bersama pendaki-pendaki lain menembus kegelapan malam. Kalau saya melihat ke bawah, banyak sekali titik-titik cahaya senter yang mengantri untuk mendaki ke Low’s Peak. Hanya ada satu jalan untuk menuju puncak tersebut dan tidak ada jalan untuk kembali ke penginapan karena jalan yang dipergunakan hanya untuk satu orang. Jadi sewaktu saya atau orang di depan saya berhenti, kami semua mesti menunggu karena tidak ada jalan untuk mundur atau melewati orang di depan kita. Di ketinggian 3.800an saya berhenti cukup lama. Hampir saja saya menyerah untuk tidak melanjutkan perjalanan. Tapi teman-teman saya tidak mengijinkan saya untuk berhenti. Dengan penuh semangat, mereka menggandeng dan menyemangati saya untuk terus berjalan dan mendaki. Padahal saya tahu mereka juga lelah. Walaupun sewaktu saya sampai di puncak matahari sudah terang, tapi saya bahagia dan terharu. Selama hampir satu jam teman-teman dari Indonesia menunggu saya di puncak Kinabalu (suhu hampir 0°C dengan angin kencang) untuk mengibarkan bendera Indonesia. Saya berhasil..kami berhasil.. Sulit dipercaya bahwa saya berhasil mencapai puncak Kinabalu dan menikmati pemandangan luar biasa ciptaan Allah Yang Maha Kuasa. Allahu Akbar!

Peserta Indonesia di Puncak Kinabalu (kiri) photo by Nur Edna Hasreena (2008). Low’s Peak puncak tertinggi Gunung Kinabalu 4.095,2 mdpl (kanan) photo by Ayu Nurinsiyah (2008).

Pemandangan dari Low’s Peak , puncak tertinggi Gunung Kinabalu (4.095,2 mdpl), photos by Chong Kwek Yan (2008)

Setelah kurang lebih 15 menit berada di puncak, menikmati cokelat hangat dan berfoto, saya bersama teman-teman course lainnya turun kembali ke penginapan.


Entry Filed under: Biconers. Tags: , .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


BICONERS

BICONS’ History

BICONS (Bird Conservation Society) is established by group of birders to support bird conservation and its habitat. BICONS was founded in September 24th 1999, based on reality of depression of wildlife existence in urban area. Birds as entry point are applied for any BICONS conservation environmental efforts. BICONS’ vision is “To sensitize people in conservation of bird and its habitat”, demonstrated in programs which focused on research, capacity building, public awareness, supporting conducive policy, and networking development.

 

October 2008
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

BICONS’ Menus

BICONS' Posts

Recent Comments

farid on LOWONGAN VOLUNTER PANITIA HCPS…
mba kasir on LOWONGAN VOLUNTER PANITIA HCPS…
yoga on BERSALING #5
pel4tukbsc on BERSALING #5
flasmana on SBW
Hesty on SBW
Moises Guterres de S… on AGENDA
bicons on Ekspedisi Kutilang
Jakarta Birder on Ekspedisi Kutilang
Deni on Ekspedisi Kutilang
ree on HARI BUMI 2008 bersama LINGKAR…
Dewi MP on Materi Workshop Raptor
Dewi MP on Materi Workshop Raptor
Dewi MP on Materi Workshop Raptor
ader on Materi Workshop Raptor

BICONS’ Tags

1 Bandung Kotaku Hijau BERSALING Biconers Biodiversity Biorace Birder BIRDRACE BOP 2007 BOP 2008 BOP II Borneo Diskusi event Events Flu burung GBM Bojongkoneng Halimun Hari Bumi 2008 Harvard HCPSN 08 HCPSN 2008 HCPSN 2009 Idul Fitri Islam Jalan2 Jawa Barat Journey Launching buku Lingkungan Lokakarya lomba blog Pameran Pameran Lingkungan Ramadhan Ranca Bayawak Raptor migran RE Registrasi SBW Talun undangan Volunter Water Bird WBWR 2008

Blog Stats

BICONS’ Archives

Categories